Ringkasan Berdirinya
Jemaat GMIM Imanuel Bahu yang berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi, Bahu, Kecamatan Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara, memiliki sejarah panjang yang berawal dari kehidupan iman umat Kristen di wilayah tersebut. Pada mulanya, umat Kristen di Bahu melaksanakan ibadah di Gereja Kristen Malalayang hingga akhirnya pada tahun 1927 jemaat Bahu memisahkan diri dan mulai berdiri sebagai jemaat mandiri dengan Penolong Rombang sebagai pelayan yang memimpin ibadah. Sebelum memiliki gedung gereja, kegiatan peribadatan dilakukan secara bergiliran di rumah-rumah jemaat. Melalui musyawarah bersama, pada akhir tahun 1927 dimulailah pembangunan gedung gereja yang berdiri di atas tanah keluarga Mundung. Saat itu tercatat sebanyak 46 kepala keluarga dengan jumlah 138 jiwa menjadi anggota jemaat. Pada bulan Desember 1927, jemaat melaksanakan pemilihan Guru Jemaat dan Majelis Jemaat pertama yang menetapkan Jan Senduk sebagai Guru Jemaat, Welhelmus Soputan dan Jehezkiel Kawatu sebagai Penatua, serta Jhonatan Wuwungan, Dien Wehantow, Martha Rindengan, dan Ibu Diana Langi sebagai Syamas. Selanjutnya, pada tanggal 1 Januari 1928 dilaksanakan ibadah syukur Tahun Baru yang dirangkaikan dengan peresmian jemaat GMIM Imanuel Bahu yang baru, dipimpin oleh Penolong Rombang. Hingga saat ini, GMIM Imanuel Bahu tetap aktif dalam kehidupan bergereja dengan 28 kolom (kelompok wilayah jemaat), serta berkembang menjadi 657 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 2.190 jiwa, di bawah pelayanan Pdt. Adeleida Kuhon-Tampi, S.Th selaku Ketua Majelis Jemaat.