Ringkasan Berdirinya
Jemaat GMIM Imanuel Bahu merupakan cerminan dari semangat ketekunan umat dalam membangun persekutuan di tengah dinamika zaman. Wilayah Bahu, yang pada tahun 1920-an hanyalah kawasan hutan di pesisir pantai, mulai bertransformasi menjadi permukiman yang berkembang pesat. Pada mulanya, umat Kristen di wilayah ini melaksanakan ibadah di Gereja Kristen Malalayang, namun seiring bertambahnya jumlah penduduk, muncul kerinduan untuk membentuk pelayanan yang lebih mandiri. Pada tahun 1927, jemaat Bahu akhirnya memisahkan diri dan mulai berdiri sebagai jemaat mandiri di bawah bimbingan Penolong Rombang sebagai pelayan yang memimpin ibadah. Sebelum memiliki gedung gereja sendiri, kegiatan peribadatan dilakukan secara bergiliran di rumah-rumah jemaat. Melalui musyawarah bersama, pada akhir tahun 1927 dimulailah pembangunan gedung gereja pertama yang berdiri di atas tanah keluarga Mundung. Pada masa itu, tercatat sebanyak 46 kepala keluarga dengan total 138 jiwa menjadi anggota jemaat yang teguh dalam iman.
Pada bulan Desember 1927, jemaat melaksanakan pemilihan Guru Jemaat dan Majelis Jemaat pertama yang menetapkan Jan Senduk sebagai Guru Jemaat, Welhelmus Soputan dan Jehezkiel Kawatu sebagai Penatua, serta Jhonatan Wuwungan, Dien Wehantow, Martha Rindengan, dan Ibu Diana Langi sebagai Syamas. Puncak dari perjuangan awal ini terjadi pada tanggal 1 Januari 1928, di mana ibadah syukur Tahun Baru dirangkaikan dengan peresmian jemaat GMIM Imanuel Bahu yang baru, yang dipimpin langsung oleh Penolong Rombang.
Dalam perkembangannya, pelayanan ini terus meluas. Pada tahun 1925, inisiatif tokoh-tokoh seperti Bapak Soyutan, serta almarhum Hum. Rawung, H. Mundung, dan H. Tampenawas semakin memperkuat fondasi tempat ibadah sederhana yang ada. Perjalanan iman ini sempat mengalami berbagai pasang surut, termasuk bergabungnya jemaat ke dalam K.P.I.K. pada tahun 1928, serta masa-masa sulit selama pendudukan Jepang di mana jemaat sempat terintegrasi ke dalam Jemaat Kanon. Transisi penting terjadi pasca-perang yang membawa jemaat melalui berbagai tahapan struktur organisasi hingga akhirnya, melalui ketetapan Sinode GMIM pada 1 Januari 1956, Bahu resmi diakui sebagai jemaat mandiri yang terdiri dari lima paroki dengan 214 kepala keluarga. Tantangan kembali menguji jemaat pada periode 1960 hingga 1961 saat situasi keamanan memaksa sebagian anggota mengungsi ke Kota Manado akibat pertempuran, namun semangat untuk memiliki rumah ibadah permanen tetap menyala. Setelah melalui perencanaan yang matang, pembangunan gedung gereja permanen direalisasikan pada 15 Desember 1965, yang kemudian disusul dengan penempatan pendeta khusus oleh Sinode GMIM pada bulan Maret 1967.
Jejak sejarah panjang yang berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi, Bahu, Kecamatan Malalayang, Kota Manado ini tidak hanya mencatat pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghormati dedikasi para pelayan awal seperti Bapak A.R. Inkar, Bapak J.B. Rengkung, Ibu H. Kaunang-Runturambi, dan Bapak W. Alera yang telah meletakkan fondasi iman. Hingga saat ini, GMIM Imanuel Bahu tetap aktif dalam kehidupan bergereja dengan melayani 28 kolom yang menjadi bukti nyata pertumbuhan dan keteguhan iman jemaat dalam menapaki zaman.